Karhutla Jadi Sorotan Global, Mabes TNI : PT RKA di Melawi Milik investor Asal Malaysia Salah Satu Penyumbang Kabut Asap Terbesar Saat Ini ke Negeri Jiran

MELAWI, KALBAR, suara independent — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi, Kalimantan , kembali mendapat perhatian serius. Persoalan yang selama ini dianggap sebagai bencana regional kini disebut telah berkembang menjadi isu lintas batas negara setelah kabut asap dari kebakaran di Kalimantan dan Sumatra dilaporkan berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam.
Dampak kabut asap tersebut tidak hanya menyentuh persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi di wilayah yang terdampak.
Di tengah kondisi tersebut, Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Mabes TNI turun langsung ke Kabupaten Melawi untuk melihat kondisi lapangan sekaligus memperkuat koordinasi penanganan kebakaran.

Tim yang dipimpin Brigjen TNI Luqman Arif melakukan pemantauan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan lahan yang berada dalam wilayah perizinan PT Rafi Kamajaya Abadi (PT RKA), yang berada di Kecamatan Nanga Pinoh dan Kecamatan Belimbing.nDari hasil pemantauan tersebut, Luqman menyebut ditemukan area kebakaran dengan luasan cukup besar di kawasan perizinan perusahaan dan merupakan salah satu penyumbang kabut asap saat ini.
“Dari pantauan tim, sangat jelas di lapangan ratusan hektare lahan yang terbakar terjadi di lahan perizinan PT Rafi Kamajaya Abadi dan berimbas ke lahan milik warga yang berada di sekitarnya,” ujar Brigjen TNI Luqman Arif, Kamis (3/9/2026).
Luqman juga menyoroti kebakaran lahan gambut yang menurutnya menjadi salah satu faktor yang memperparah kepulan asap. Ia menyebut kondisi kebakaran lahan gambut di kawasan tersebut menghasilkan asap pekat yang berpotensi terbawa angin hingga ke wilayah negara tetangga.
“Mayoritas saham PT Rafi Kamajaya Abadi di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, dikendalikan oleh grup perusahaan asal Malaysia, yaitu TDM Berhad. Sekitar 95 persen saham PT Rafi Kamajaya Abadi dipegang oleh entitas atau investor asal Malaysia,” tegasnya.
Brigjen TNI Luqman Arif menegaskan, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah api membesar. Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, perusahaan, hingga masyarakat.
“Penanganan karhutla tidak bisa lagi sekadar memadamkan, tetapi sinergitas dan saling bahu membahu serta kepedulian dari kita untuk bergerak,” tegas Luqman.
Ia menilai edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menekan potensi munculnya titik api baru. Penyuluhan, kata dia, harus dilakukan secara berjenjang hingga tingkat desa dan menjangkau masyarakat di wilayah pelosok.
Selain masyarakat, perusahaan yang memiliki wilayah konsesi juga dinilai memiliki peran penting dalam upaya pencegahan. Kesiapan sarana dan prasarana pemadaman serta kemampuan merespons kebakaran secara cepat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah api meluas.
“Kehadiran kami di Kabupaten Melawi menjadi bagian dari penguatan penanganan karhutla di tengah musim kemarau. Semua pihak dan masyarakat didorong mencegah kebakaran meluas,” imbuhnya.
Mabes TNI menegaskan bahwa persoalan karhutla membutuhkan komitmen bersama dan tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja.
Upaya pencegahan dinilai harus dimulai dari tingkat paling bawah, termasuk desa dan masyarakat, kemudian diperkuat melalui koordinasi antara pemerintah, aparat keamanan, perusahaan serta seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, dampak asap yang disebut telah melintasi batas negara menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Kalimantan Barat memiliki konsekuensi yang lebih luas.
Karena itu, pengendalian titik api, perlindungan kawasan gambut, kesiapan perusahaan dan masyarakat, serta koordinasi lintas sektor menjadi pekerjaan mendesak untuk mencegah karhutla kembali berkembang menjadi persoalan regional.
( Redaksi )




