Tak Berkategori

Dari Medan Bencana ke Ikatan Keluarga: Haru Pelepasan Relawan Mapalangit Biru di Sumatra Utara

Cirebon, suaraindependentnews.id – (26 April 2026) Pengabdian panjang dua relawan Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon, Salman “Nesting” dan Mudaris “Hendel”, akhirnya mencapai titik akhir. Setelah sejak Desember 2025 mendampingi masyarakat terdampak bencana di Dusun Hutaraja, keduanya resmi meninggalkan lokasi tugas sebagai bagian dari Satgas Kebencanaan FK-KBPA-BR.

Dusun Hutaraja, yang sebelumnya terisolasi akibat bencana, kini perlahan bangkit. Bersama warga, kedua relawan turut menjadi bagian dari perjalanan pemulihan, khususnya bagi 43 keluarga yang bertahan di tengah keterbatasan. Kehadiran mereka tak hanya membawa bantuan, tetapi juga semangat, harapan, dan kebersamaan.

Perpisahan pun berlangsung dalam suasana yang sarat emosi. Masyarakat memberikan kain ulos kepada Salman dan Mudaris sebuah simbol kehormatan dari Tanah Batak yang merepresentasikan kasih sayang, doa, dan ikatan kekeluargaan. Ulos tersebut menjadi penanda bahwa hubungan yang terjalin telah melampaui sekadar tugas kemanusiaan.

Rangkaian pelepasan dimulai pada Jumat malam dengan makan bersama anggota Pos Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) HUNTAR (Hutaraja Haramonting). Dalam kehangatan kebersamaan, tawa dan cerita mengalir, menjadi ruang bagi semua pihak untuk saling menguatkan sekaligus merelakan perpisahan.

Ketua PMPB HUNTAR, Jonter Simatupang, menyampaikan pesan yang menyentuh.
“Semoga kalian selalu sehat dan selamat sampai tujuan. Perpisahan ini bukan akhir dari kebersamaan kita. Silaturahmi harus tetap terjaga. Kalian bukan lagi relawan, tapi sudah menjadi keluarga kami. Aku tulang-mu, kalian bere-ku. Horas!” ungkapnya.

Sementara itu, Mang Achil dari GPA Bandung yang turut mendampingi selama masa operasi, memberikan pesan singkat kepada kedua relawan agar senantiasa menjaga kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan.

Kepergian Salman dan Mudaris menandai berakhirnya satu fase penting di Hutaraja. Namun lebih dari itu, kisah ini meninggalkan jejak kuat tentang arti kemanusiaan bahwa di tengah bencana, lahir hubungan yang tak lekang oleh waktu: dari relawan, menjadi keluarga. (Kabiro)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!