
Solok, Suaraindependent.id – Kekecewaan dan kekesalan terpancar di wajah sang legislator Kabupaten Solok ini, persiapan dan seleksi pemain sudah usai digelar, bahkan dengan menggunakan sumber daya sendiri. Alih alih menggondol medali, malah cabornya batal diikut sertakan dalam ajang Porprov Sumbar ke XVI di Pariaman.
Tim sepakbola Kabupaten Solok sudah dipastikan tidak ikut ambil bagian dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026, ungkap Trio Karno Vivo, Ketua Asosiasi Sepakbola Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Solok
Tidak tersedianya anggaran yang memadai membuat Pengurus Askab Kabupaten Solok menarik mundur pasukannya dari arena Porprov yang digelar sejak 2 Oktober kemarin.
Trio Karno Vivo, anggota DPRD Kabupaten Solok dari Fraksi Golkar tersebut menegaskan bahwa pihaknya memutuskan sikap tidak mengikuti Porprov XVI 2026 ini setelah melalui berbagai pertimbangan. Ia menuturkan bahwa dari sekira Rp150 juta anggaran yang diajukan ke KONI Kabupaten Solok, hanya disetujui Rp55 juta.
Artinya, hanya sepertiga dari diusulkan. Trio Karno Vivo juga mengaku telah melakukan komunikasi intensif dengan Bupati Jon Firman Pandu, Wakil Bupati H. Candra, Ketua KONI Doni Zulkifli, serta Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Solok. Namun, tak ada solusi.
“Kami sangat kecewa, para pemain dan orang tua mereka juga sangat kecewa. Begitu juga dengan para pelatih, offisial dan seluruh masyarakat Kabupaten Solok. Tapi, kita sudah berusaha maksimal dan menempuh segala cara untuk bisa ikut Porprov ini. Karena sepakbola adalah bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Solok, serta mimpi bagi seluruh para generasi muda pesepakbola Kabupaten Solok,” ungkapnya.
Trio Karno Vivo juga menegaskan bahwa Askab PSSI Kabupaten Solok telah melakukan rangkaian seleksi berjenjang mulai dari tingkat wilayah yang meliputi nagari-nagari dan kecamatan, hingga tingkat kabupaten.
Seluruh persiapan dan persyaratan juga telah dipenuhi. Bahkan, Askab PSSI Kabupaten Solok juga telah memasukkan ke aplikasi “Satu Data” KONI Kabupaten Solok untuk dimasukkan ke aplikasi “Sirimau” KONI Sumbar.
Sehingga, secara tugas dan kewenangan yang dimiliki, Askab PSSI Kabupaten Solok sudah melengkapi seluruh persyaratan untuk ikut Porprov.
“Secara tugas dan wewenang yang kita miliki, Askab PSSI Kabupaten Solok sudah melaksanakan kewajibannya. Ketika data pemain, pelatih dan offisial kita masukkan ke Pemkab Solok melalui KONI Kabupaten Solok, para pemain, pelatih dan offisial tersebut, mereka menjadi milik dan tanggung jawab Pemkab Solok. Sebab, yang akan mendaftarkan atlet, pelatih dan offisial tersebut ke Porprov adalah Pemkab Solok, melalui KONI Kabupaten Solok “
Apakah ini Dosa Askab Kabupaten Solok?
Batalnya cabor sepakbola ikut ambil bagian di porprov Sumbar menyisakan beragam pertanyaan ditengah masyarakat. Bahkan ada segelintir orang yang mengambing hitamkan Askab, seolah-olah batalnya cabor sepakbola berlaga di porprov Sumbar ini adalah kelalaian dan kesalahan dari Askab Kabupaten Solok yang tidak mau bertanggungjawab terhadap atletnya, termasuk di segi pendanaan, sehingga ada yang menuntut Ketua Askab untuk mundur.
Trio Karno vivo juga tidak menampik tuduhan tersebut, bahkan dia dengan gamblang menyampaikan,
“Kalau kami juga yang akan membiayai atlet ini setelah kami siapkan, kami seleksi, kami pilih, selanjutnya kami serahkan ke Pemkab melalui KONI, iyo ndak talok di ambo do. Biaya dari ambo, yang dapek namo urang, ancak lah ambo buek se tarkam sorang lai, Jaleh lo biaya ambo tangguang surang, dan namo dapek lo di ambo“
Cukup sudah kami para pengurus Askab mengeluarkan biaya pribadi untuk pelaksanaan seleksi kemarin, sambungnya. “Lebih kurang 15 juta kami tanggung bersama pengurus Askab, sementara dana Askab itu tidak ada” ungkap Vivo.
Trio Karno Vivo juga menguraikan bahwa dari rangkaian seleksi untuk Tim Sepakbola Porprov, pihaknya telah menggelar seleksi terhadap sekira 1.000 calon pesepakbola dari seluruh nagari se-Kabupaten Solok. Jumlah ini kemudian diseleksi lagi hingga menjadi 37 pemain di tingkat Kabupaten Solok. Kemudian, kembali diseleksi kembali melalui pemusatan latihan (training center/TC) menjadi 33 orang dan finalnya menjadi 23 orang.
Menurut Vivo, saat akan didaftarkan oleh KONI Kabupaten Solok ke KONI Sumbar, hanya 18 atlet yang akan difasilitasi, sementara 5 pemain sisa menggunakan anggaran mandiri.
Saat akan didaftarkan ke aplikasi ‘Sirimau’, KONI Kabupaten Solok mengatakan anggaran yang akan dialokasikan ke Cabor Sepakbola sebanyak Rp55,5 juta. Dengan rincian, Rp24.705.000 untuk Training Center (TC) dan Rp30.800.000 untuk biaya selama mengikuti Porprov XVI Sumbar.
“Jadi, selama Porprov berlangsung, Pemkab Solok melalui KONI Kabupaten Solok hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp30.800.000 selama keikutsertaan di Porprov. Itu pun pencairannya belum bisa dipastikan kapan. Sehingga, dengan berat hati kami memilih tidak ikut di Porprov kali ini. Lebih baik tidak memaksakan diri, dari pada nanti terjerat masalah hukum,” ungkapnya.
Lain halnya dengan apa yang disampaikan Ketua KONI Kabupaten Solok, Doni Zulkifli, ST, Dt Majolelo.
Mengutip dari rilis yang diterbitkan Media Online https://PATRONNEWS.co.id pada Sabtu 3 Oktober 2026, Doni Zulkifli menyebutkan bahwa Askab PSSI Kabupaten Solok sebelumnya telah melakukan seleksi pemain untuk membentuk tim sepak bola yang akan dipersiapkan menghadapi Porprov. Namun menurutnya, proses tersebut tidak berlanjut hingga tahapan screening data yang menjadi salah satu bagian dari persiapan peserta Porprov. Menurut Doni, kondisi itu disebabkan persoalan anggaran.
“Askab PSSI Kabupaten Solok sebelumnya telah melakukan rangkaian seleksi berjenjang mulai dari tingkat wilayah yang meliputi nagari-nagari dan kecamatan, hingga tingkat kabupaten. Seluruh persiapan dan persyaratan juga telah mereka penuhi. Termasuk komposisi tim dan data ke KONI Kabupaten Solok. Namun, mereka tidak mengikuti screening di Padang Pariaman pada Senin lalu (28/9/2026). Sehingga, dipastikan tidak bisa ikut di Porprov ini. Kami (KONI Kabupaten Solok) juga telah memanggil mereka dan mengkomunikasikan ke Pemkab Solok, namun persoalan anggaran yang menjadi alasan utama, tidak ditemukan solusi,” ungkapnya.
Doni Zulkifli juga menegaskan bahwa batalnya Cabor Sepakbola untuk tampil di Porprov Sumbar XVI 2026 ini, murni disebabkan faktor anggaran. Menurutnya, seluruh Cabor sebenarnya juga menghadapi kondisi serupa. Bahkan menurutnya, dari sekira Rp5,5 miliar anggaran yang diajukan KONI Kabupaten Solok ke Pemkab Solok, realisasinya hanya sekira Rp2,5 miliar.
“Ini adalah pilihan berat dan sulit, namun kita harus menghormati pilihan Askab. Mereka lebih memilih tidak ikut serta,” ungkapnya.
Kita ketahui bersama, dari sekian banyaknya Cabor yang mengikuti ajang Porprov Sumbar ini, Cabor sepakbola lah yang paling banyak membawa atlet, yakni 23 orang atlet, plus pelatih, plus official. Artinya kalau anggaran itu tidak disiapkan oleh pemerintah Daerah, apakah mungkin orang lain akan mampu memanggul anggaran tersebut? (Billy)



