Jejak Pengabdian Panglima ASN ; Ditendang Dari Kampung Sendiri, Mengabdi di Negeri Tetangga

Solok, Suaraindependent.id- Hengkangnya Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok ke Pemkab Dharmasraya menyisakan tanda tanya besar. Menempati jabatan yang sama, kini Medison.S. Sos. M. Si, serius mengabdi di negeri orang.
Perjalanan pengabdian Medison sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Solok kini memasuki babak baru. Dengan penuh dedikasi dan pengabdian, ia resmi menjalankan tugas baru di Kabupaten Dharmasraya.
Sosok Medison. S. Sos. M. Si yang familiar dan menjadi figur yang dikenal luas di kalangan ASN Pemkab Solok sejak 10 tahun terakhir. Hingga ia mampu merubah wajah Kabupaten Solok lebih cemerlang dan berwibawa di mata ASN maupun publik.
Cukup menonjol di Pemkab Solok, Medison menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Solok selama dua periode kepemimpinan Bupati. Menjabat sebagai “Panglima ASN” di era Bupati Epyardi Asda dan sekarang Bupati Jon Firman Pandu.
Berlakon sebagai pembantu utama Bupati dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan seluruh dinas dan perangkat daerah, Medison dinilai piawai mengelola birokrasi selama dua periode Bupati yang berbeda.
Menyandang julukan ‘Panglima ASN’, ia menjadi motor penggerak birokrasi. Sebagai Sekda 2 periode Bupati Solok, ia pegang penuh kendali birokrasi.
“Tidak semua Sekda mampu memegang kendali di lintas rezim, hal itu dibuktikan Medison. Bertahan dari era Bupati Epyardi Asda, dan bermanuver ke Bupati Jon Firman Pandu, menunjukan Medison punya kemampuan adaptasi politik birokrasi yang kuat”
Medison konsisten di 2 periode Bupati Solok. Itu tanda dia dianggap “Panglima ASN” yang stabil dan bisa menjembatani transisi kepemimpinan dan mampu menjadi dirigen yang bikin seluruh OPD berjalan seirama.
Dalam satu dasawarsa, Medison dianggap berhasil menciptakan birokrasi di Kab Solok solid dan berwibawa. Puncaknya, program “Mambangkik Batang Tarandam” berjalan sesuai harapan. Makanya gaya kepemimpinan Medison cukup familiar dikalangan ASN, hingga berpengaruh sampai ke masyarakat.
Dikenal sebagai salah satu Sekda dengan masa jabatan cukup panjang selama satu dekade, perpindahan Medison ke posisi yang sama di Pemkab Dharmasraya wajar memunculkan pertanyaan publik.

Lebih jauh lagi, perpindahan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang pola pelatihan karier pejabat di tingkat daerah. Apakah ini murni kebutuhan organisasi, atau justru cerminan dari dinamika politik dan kepentingan tertentu yang sering kali tak tersampaikan ke publik?
Disisi lain, penempatan Medison pada jabatan yang sama di Dharmasraya tidak bisa dianggap sebagai kenyamanan baru, justru sebaliknya, ini adalah ujian nyata.



